By Admin Pantau Gambut
from PantauGambut.id
[This page will be translated soon]

Bertepatan dengan Hari Pemadam Internasional, Pantau Gambut menyelanggarakan lomba menulis cerita pendek dengan tema Perempuan Di Tanah Membara. Berkolaborasi dengan Fire Play, kami berupaya untuk menggeser stigma perempuan sebagai “pelengkap” pada setiap upaya pemadaman kebarakan hutan dan lahan (karhutla) gambut. Tanpa adanya intervensi, stigma ini akan berdampak buruk jika terus dipelihara. Selain tugas para pemadam di lapangan menjadi terhambat, perempuan yang ada di kawasan terdampak karhutla juga tidak berdaya dan menjadi tergantung kepada lelaki. 

Setelah melalui beberapa tahap penjurian, telah terpilih 3 cerita pendek terpilih dengan sebuah karya terbaik yang ditulis oleh Hera Yulita.

Jangan Terlalu Lama Kau Panggang Ikanmu

(Hera Yulita)

“Tiada padam api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tanpa peran para perempuan.” Demikian kata-kata yang paling kuingat dari uwakku dulu. Uwak yang dalam panggilan Melayu berarti paman atau saudara kandung laki-laki dari pihak ayah atau ibu. Uwak bekerja sebagai pengambil Nira Kelapa. Sesekali jika ada sedang luang dan harga upahnya cocok, uwak juga menerima tawaran sebagai tukang tebas khusus untuk kebun atau tanah yang akan dibuka, dipatok untuk dijual kemudian.
Jasa uwak juga diperlukan, ketika ada salah satu warga kampung kami yang meninggal dunia. Uwak dan beberapa orang akan turun ke pemakaman, dalam rangka menunaikan tugas mulia sebagai tukang gali kubur. Sebagai tukang gali kubur yang sudah senior, uwak dihormati. Petuahnya didengar. Izinnya dimintai untuk urusan- urusan pemakaman di TPU kampung. Bagi saya, uwak adalah pahlawan keluarga; ia yang serba bisa. Bekerja mulai dari urusan kelapa di kebun, sampai mengurusi liang lahat orang lain.
Sudah lama matahari menghilang dari pandangan. Hari-hari belakangan cuaca sangat tidak nyaman. Bisa kau bayangkan. Apa jadinya ketika tanah Kalimantan yang terkenal dengan sinar mataharinya yang penuh, tiba-tiba mendung. Tertutup kabut asap yang merundung. Hampir tiap hari tanpa bayangan. Jarak pandang tak lagi panjang. Semua serba terhalang. Penerbangan dibatalkan. Sekolah diliburkan. Hal ini selalu berulang. Tahun lalu, tahun ini dan tahun depan. Aku dan orang Kalimantan lainnya, hanya bisa memberkan pemakluman. Hati yang penuh pemahaman. Sarat ketidakmengapaan.
“Mamak uring-uringan. Air ledeng asin.” Kataku padamu di kantin Long Ijah siang itu. Kau hanya diam, sibuk dengan laptopmu. Kulanjutkan menghabiskan nasi uduk di depanku. Hampir tak ada pembicaraan antara kita siang itu. Sampai kau berkata “Aku akan memimpin aksi lusa. Kita sudah terlalu lama diam. Pemerintah perlu dibangunkan. Sudah terlalu lama sepertinya anggota dewan kita tidak disapa mahasiswa. Terlalu nyaman mereka. Bahaya kalau tidak ada yang mengingatkan. Mau sampai hutan kita habiskah, baru ada penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan?” katamu panjang lebar.
Di kejauhan aku cuma bisa terdiam. Menatap kau di antara kerumunan demonstran. Memimpin orasi. Memegang megaphone. Berteriak lantang. Kau terlalu manis untuk menjadi seorang demonstran. Almamatermu akan kusam ditelan idealisme yang belum tentu sampai dan mendapatkan perhatian.
Saban kau turun ke jalan. Aku selalu tertawan penasaran. Apa saja yang kau bicarakan dengan uwak, sampai kau seberani dan sekritis hari ini? Buku apa saja yang kau baca? Dongeng apa saja yang uwak ceritakan padamu, kak?
Aku hanya berpegangan pada satu kenangan. Rekam adegan suatu siang. Masa di mana aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Cik Amir siang itu. Aku pernah mengenal sisi lainmu. Pendiam. Sopan. Dua hal yang tidak akan pernah membuat siapapun mengira, bahwa kau adalah salah satu aktivis yang disegani di antara kawan- kawan pergerakan. Aku menaruh segan padamu. Lalu bertahun belakangan setelah itu. Hari-hari ini, sesekali. Kau akan bercerita tentang organisasi pergerakan. Hak-hak rakyat. Ketimpangan masyarakat. Kerusakan lingkungan. Birokrasi hari ini. Dan banyak hal lagi.
Pada mamak, aku bertanya tentang pilihan pekerjaan uwak yang tak biasa. Mengapa abangnya itu memilih pekerjaan sebagai tukang ambil Nira Kelapa, tebas rumput di hutan sampai menggali kuburan. Mamak yang masih uring-uringan dengan air ledeng yang masih asin. Bercerita sore itu.
“Uwakmu sebenarnya adalah tukang jaga api. Pekerjaan-pekerjaan yang kau sebutkan itu hanyalah sampingan, sekedar mengisi waktunya saja. Aku menggeser posisi kursi lebih dekat dengan mamak. “Tukang jaga api, mak?” tanyaku penasaran. Iya, kata mamak melanjutkan. Jadi, uwakmu waktu masih muda dulu, selalu ikut nenekmu ke ladang. Membantu menanam padi. Mulai dari membuka ladang sampai memanen, uwakmu selalu ambil bagian.
“Kau tahu, apa luka yang paling perih yang ditanggung uwakmu? Ialah menanggung kesalahan orang lain dan mengorbankan keselamatan perempuan yang paling ia sayangi. Ladang yang dibakar di hari naas itu, adalah karena si tukang bakar tidak mengindahkan petunjuk kepala kampung. Membakar untuk membuka ladang baru itu, ada perhitungannya, ada pantangannya. Tidak bisa dan tidak boleh sembarangan. Jika uwakmu sempat kabur dari kepungan api dan akhirnya selamat adalah kesalahan, maka apakah nenekmu yang bertahan memadamkan api, lantas terlambat lari dari petaka itu adalah kebenaran?”
“Jangan terlalu dalam kau galikan lubang untuk dendammu. Nanti gelap hatimu. Apalagi untuk siapapun yang membakar ladang hari itu. Dia juga saudara kita. Kau anakku. Tak ada dendam dalam arti dan doa di balik namamu.” Itu kata nenekmu pada uwakmu, di hembusan nafas akhirnya malam itu. Apapun arti nama uwakmu. Sejak hari itu, uwakmu tidak lagi mau memakai namanya. Nama yang kemudian lebih dikenal orang kampung adalah Bujang anak Si Layla atau sekarang dengan uwakmu saja. Sejak hari itu juga, uwakmu memutuskan untuk menjadi tukang jaga api, ketika ada yang membuka ladang.
Pada sebuah petang yang basah di bulan Juli, tiga tahun lalu. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya pada kakak sepupuku, tentang “Apa saja yang ia bicarakan dengan uwak, sampai ia seberani dan sekritis hari ini? “Kau tahu mengapa namaku Nyala? katanya. Itu Karena nyala semangat hidup di dalam diri bapak, diri uwakmu itu tak pernah penuh. Uwakmu sudah lama memadamkannya. Mengubah nyala semangat dalam diriya menjadi lebih sendu dari abu. Sejak nenek meninggal dulu. Anak laki- lakinya itu, padam bahkan sebelum mengenal terang.
“Jangan kau panggang terlalu matang ikannya, La. Nanti padam apimu!” Teriak uwak dari tepi jendela dapur. Sementara dari balik tungku. Aku melihat kakak sepupuku, Nyala tergopoh-gopoh memindahkan beberapa puntung kayu dari baranya. Memanggang ikan adalah satu-satunya warisan di rumah keluarga kami. Kakek suka makan ikan panggang, nenek dan uwak adalah pemanggang ikan yang andal. Bahkan mamak mengakui hal itu, kalau ikan panggang uwak memang lebih enak. Sepertinya, ikan panggang adalah satu-satunya kenangan baik uwak dengan api.
“Jangan terlalu lama kau panggang ikanmu. Nanti padam apimu, La. Bapak tidak suka ikan yang terlalu matang. Hilang manisnya. Kau ingat itukan La?” sekali lagi dari balik tungku, Kak Nyala mematung. Membiarkan api memakan ikan. Sembari menjawab uwak lirih “Sudah empat puluh tujuh tahun nenek pergi, dan bapak pulang sendiri. Hanya tusuk konde perak nenek saja yang tersisa sampai hari ini.” Dari Kak Nyala aku tahu. Sudah sejak lama ternyata, uwak suka bercerita tentang kisah yang sama pada kakak sepupuku itu. “Jangan terlalu lama kau panggang ikanmu, nanti padam apimu. Jangan pernah padam daya juangmu, nanti gelap hidupmu. Yang harus padam adalah api karhutla, bukan api semangat para perempuan!”
-end

Semua orang bisa memberikan peran dalam upaya pencegahan dan pemadaman karhutla di ekosistem gambut. Bagi kami, yang harus padam adalah api karhutla, bukan api semangat para perempuan!

Untuk membaca 3 cerpen terbaik, kamu bisa mengunduhnya melalui dokumen berikut!

Support Us

Share this information with your family and friends.