Harta Karun Desa Riding yang Hilang

Parliza Hendrawan, from
14 November 2019 | South Sumatra

Desa Riding dikenal dengan desa yang dikelilingi oleh Gambut dan memiliki kekayaan alam berlimpah. Sebelum tahun 2000 persisnya ketika perusahaan belum masuk, desa itu masih dikelilingi oleh pohon besar rawa gambut seperti Jelutung dan Meranti. Tapi itu dahulu kala. Sekarang desa sudah dikepung oleh perkebunan sawit dan karet. Hidup semakin susah, mencari ikan pun semakin sulit karena sungai dan kanal-kanal mulai kering sepanjang tahun.

Pak Ruslan sedang menceritakan sejarah kejayaan Desa Riding ©Parliza Hendrawan

Menaiki sepeda ontel kesayangan, Ruslan mengayuhnya selama hampir satu jam hingga tiba di sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu di ujung desa. Dermaga ini dikenal warga sebagai Pelabuhan Pangkal Jerambah. Dititipkannya sepeda, lalu ia bergegas menaiki sebuah perahu kayu untuk mencari ikan dengan menelusuri sepanjang alur sungai Batanghari yang berada persis di sekitar desanya. Jala, jaring bahkan pancing ia tebar untuk mendapatkan ikan jenis Tebakang, Betok, Keli, Gabus, Toman, Bujuk, dan Tapah. Tak perlu berlama-lama, ikan-ikan yang hidup di air tawar itu pun bisa ia dapatkan dengan mudah.

Menjelang petang hari, waktunya menepi. Ia mendayung perahunya ke arah pelabuhan. Beragam jenis ikan hasil tangkapannya ia turunkan untuk dibawa pulang. Sebagian lainya dijual pada pengepul dan warga yang telah menanti di bibir sungai. Rutinitas menangkap ikan ia jalani hingga bertahun-tahun lamanya. Waktunya pun tidak menentu, bisa siang ataupun di malam hari. Semuanya tergantung dengan kondisi cuaca, arah angin, dan kondisi terang bulan. Namun kini semua itu tinggal cerita. Ikan sudah menjadi barang mahal bagi warga di Desa Riding. Untuk mendapatkannya semakin sulit.

Dulu, ketika saya masih muda dan belum berkeluarga, hutan rimba dan hutan gambut disini masih sangat lebat. Suasananya begitu asri, apa saja yang ditanam bisa tumbuh dengan cepat dan tidak lama berselang akan menghasilkan panenan yang banyak. Di sini, ratusan pohon berdiameter hingga dua meter masih sangat mudah dijumpai. Bila masuk ke hutan untuk mencari makan, lazim bagi saya dan warga lainnya harus “bertegur sapa” dengan binatang buas seperti Harimau, Gajah, Monyet maupun Siamang.

Saya menikah pada tahun 1965, kalau tidak salah ingat kala itu pemerintah sedang gencar-gencarnya menumpas gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) hingga ke desa-desa. Kami warga di Riding tidak terlalu terpengaruh dengan peristiwa itu, kami tetap bercocok tanam dengan sukacita bahkan aktifitas mencari ikan di sungai-sungai di sekitar desa masih kami lakukan. Bagi kami waktu itu, untuk mendapatkan ikan hingga sepikul (100 kg) setiap harinya merupakan suatu hal yang tidak mustahil. Sungai-sungai masih berfungsi normal, aliran derasnya hingga ke Sungai Musi dan muara lautan. Ditengah riak kecil Sungai Rasau misalnya, masih banyak terdapat ikan dengan ukuran besar hingga berat belasan kilogram. Nama ikannya beragam: ada ikan Tapa, Betok, Kepiat ada juga Gabus.

Hampir dua puluh tahun kemudian setelah menikah, di tahun 1980an, saya sudah dikaruniai 7 orang anak. Pada masa-masa itu, kehidupan kami masih sangat sejahtera. Alam sangat bersahabat dengan kami begitu juga dengan warga disini yang tetap menjadikan alam sebagai sumber penghidupan baik untuk bercocok tanam, mencari ikan. Alam dan kami sama-sama saling membutuhkan dan saling menjaga. Karena kami sadar betul, sekecil apapun kerusakannya akan berdampak buruk bagi anak cucu dikemudian hari. Makanya kami dengan telaten menjaga hutan agar tidak ditebang secara serampangan dan tidak juga membakarnya untuk keperluan yang tidak produktif.

Hari terus berganti, hingga akhirnya kami harus menghadapi sebuah kenyataan bahwa hutan yang dulunya begitu lebat kini perlahan-lahan mulai berkurang. Lahan gambut dengan sangat mudah diakses oleh siapapun. Hampir tidak ada yang bisa membatasi. Mungkin itu merupakan sebuah konsekuensi dari semakin banyaknya jumlah penduduk yang hidup di Desa Riding. Kami tentu butuh makan dan pekerjaan untuk anak cucu. Ada diantara warga yang harus membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian namun kondisi itu bukanlah yang menjadi penyebab kerusakan sesungguhnya.  Bagi kami membuka hutan hanya untuk sekedar bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Seingat saya awal tahun 2002, benar-benar desa kami mulai berubah. Perlahan tapi pasti rimba dan hutan gambut mulai berubah fungsi. Dulunya sebagai daerah rawa gambut, sekarang sudah menjadi areal perkebunan milik perusahaan swasta. Sungai, payau yang dulunya tempat kami mencari ikan sekarang sudah berubah menjadi jalan poros, kebun karet juga kebun sawit termasuk tanaman akasia. Sekarang kami semakin sulit mencari makan dari hutan maupun bekarang, mencari ikan di antara sungai-sungai di tengah rawa gambut.

Duduk di beranda sebuah pondok kayu milik anaknya, Ruslan, 73 tahun, mencoba mengingat memori masa mudanya puluhan tahun silam. Ketika itu Riding, desa leluhurnya itu masih dikelilingi oleh hutan rimba, hamparan gambut yang luas dan sungai-sungai yang mengalir deras. Semua kisah dan peristiwa masih bisa ia sampaikan dengan detail dan rinci. Disela-sela obrolan, seketika tatapannya jadi kosong, diskusi ringan pun sempat terhenti. Ia geram melihat kondisi yang harus dia hadapi kini.

*GIF Tutupan Lahan

Menghela nafas agak dalam, Ruslan kembali menuturkan apa yang sempat dia rasakan. Untuk membuktikan ucapannya, Ruslan mengajak untuk menengok sebuah pohon besar yang tergeletak persis di belakang pondok. Dia pun menduduki pohon Meranti yang terlihat menghitam akibat dimakan api pada peristiwa kebakaran hebat tahun 2015 silam. Diameter kayunya mencapai 100 cm dan panjangnya hingga 20 meter. Selain Meranti, di lahan yang sama juga ditumbuhi oleh pohon Perepat, Kecapi, Jelutung, dan Pulai. “Dulu pohon yang lebih besar dari yang saya duduki ini masih banyak tapi sekarang hampir tidak ada lagi,” kata Ruslan.

*Foto pak ruslan

Menurut Ruslan masa jaya desa Riding mulai terkikis pasca mulai masuknya raksasa perkebunan di daerah itu sekitar tahun 2002. Mencari ikan semakin sulit karena kawasan rawa gambut sudah ditutupi oleh ribuan batang pohon akasia, sawit dan karet. Kondisi semakin diperparah oleh adanya peristiwa kebakaran hutan pada tahun 2015. Bahkan sebelumnya, dia mencatat ada beberapa peristiwa kebakaran yang juga mengurangi tutupan lahan gambut. Peristiwa itu diantaranya terjadi di tahun 1961, 1967 dan 1971.

Arion, Ketua RT 12, Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir (OKI) sependapat dengan yang disampaikan oleh Ruslan. Ia pun sempat menikmati kemudahan mencari ikan di sekitar desanya. Namun saat ini katanya sungai semakin dangkal bahkan sebagian besar telah mengering. Sungai-sungai itu seperti Sungai Sindur, Rasau, Muara Bijuku, Rengas Abang, Rengas Kuning, Penyabungan, Setanjung, Damping, Penyajab, Lebak Simpanan, dan Sungai Pangkalan Jerambah. Akibat dari pendangkalan dan pengeringan sungai, warga tidak leluasa lagi menggunakan perahu untuk menjalankan aktifitas sehari-hari. “Setelah masuknya perusahaan-perusahaan itu di sekitar desa, mencari ikan semakin susah, menanam padi hasilnya tidak maksimal karena sawah mengalami kekeringan,” ujarnya.

Hal yang sama diakui oleh Iswadi, 46 tahun yang merupakan Kadus 2 Desa Riding. Menurutnya sebagai akibat dari peralihan fungsi sejatinya dari rawa, gambut dan sungai menjadi kawasan industri perhutanan, saat ini warga desa Riding yang berjumlah sekitar 4500 jiwa dalam 1500 kepala keluarga itu semakin susah untuk mencari makan. Dulunya sebagai tuan tanah, saat ini sebagian besar warganya menjadi buruh tani, buruh pabrik dan pekerja perkebunan.

Iswadi mengatakan, saat ini sejumlah perusahaan telah beroperasi di sekitar desanya. Perusahaan tersebut diantaranya PT. Bumi Mekar Hijau (BMH), PT. Bumi Andalas Permai (BAP) dan PT. Sebangun Bumi Andalas (SBA) yang ia ketahui telah beroperasi sejak tahun 2004. Ketiga perusahaan ini menjadi penyedia bahan baku bagi pabrik kertas PT. OKI Pulp and Paper Mills berupa kayu akasia. Selain itu di sekitar desa juga terdapat perkebunan kelap sawit milik PT. Bintang Harapan Palma (BHP). BHP mulai menggarap lahan sejak tahun 2018, yang saat ini sedang melaksanakan proses land clearing.

Show your support

Help us to share this important new to your family and friends.