The Fate of Indonesia’s Peat Restoration

Pantau Gambut, from www.pantaugambut.id
28 October 2020 | National

Indonesia’s peatlands were on fire again in 2019 despite restoration activities that the Peat Restoration Agency (BRG) had been carrying out since its establishment in 2016.  Although not as severe as the ones in 2015, the 2019 peat fires indicate the lack of results from restoration commitments and improvements to peat protection regulations.

Peat Rewetting Infrastructure built by BRG in 2017 in Lukun Village, Meranti Islands ©Pantau Gambut

Hasil rekapitulasi Pantau Gambut terhadap capaian kinerja restorasi hingga akhir 2019 menunjukkan bahwa jutaan area gambut telah diklaim pulih oleh pemerintah sesuai rencana strategis (renstra) periode 5 tahun yang telah disusun. Lembaga negara yang saat ini menyelenggarakan kegiatan pemulihan ekosistem gambut saat ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Kedua instansi tersebut setiap tahunnya mempublikasikan capaian besar kinerja restorasi gambut berbasis luasan area (hektare) yang telah direstorasi. Namun klaim capaian tersebut tidak disertai informasi rinci mengenai bagaimana menakar keberhasilan atas kegiatan restorasi yang telah dilakukan.

Analisa Pantau Gambut menunjukkan 69% area gambut di luar izin konsesi terbakar selama Januari-Desember 2019. Dari total area non-konsesi yang terbakar, Pantau Gambut menemukan 36% atau sekitar 127.289,69 Ha kebakaran berada pada radius 1 km dari batas terluar konsesi yang ada di atas gambut. Mayoritas tutupan lahan yang terbakar pada area tersebut berupa belukar dan perkebunan.

 

Tim Pantau Gambut mengunjungi beberapa sampel lokasi di provinsi Aceh dan Riau pada 2019 silam. Penentuan lokasi observasi difokuskan pada area yang sudah dibangun sekat kanal pada periode 2016-2018 namun masih terdeteksi titik panas yang tertangkap sensor VIIRS dengan tingkat kepercayaan tinggi. Pantau Gambut mencatat dua hal dari observasi lapangan, di antaranya:

Pertama, adanya beberapa lokasi pembangunan sekat kanal yang tidak tepat sasaran karena dibangun bukan berdasarkan tingkat kerawanan terhadap api  tahunan sehingga belum mampu membasahi gambut secara optimal. Hasil kunjungan pada Desa Teluk Nilap, Kabupaten Rokan Hilir, Riau menunjukkan bahwa sekat kanal yang sudah dibangun BRG tahun 2018 berada di lokasi yang cukup jauh dari area rawan kebakaran dan area yang sedang terbakar pada saat itu.

 

Kedua, terdapat beberapa infrastruktur sekat kanal yang rusak atau hancur akibat aliran air yang sangat deras. Hal ini juga bisa terjadi karena absennya pemeliharan sehingga infrastruktur itu tidak mampu membendung air secara optimal. Keadaan ini juga menambah daftar pekerjaan rumah pemerintah untuk memastikan kondisi dan perawatan infrastruktur restorasi gambut yang telah dibangun.

 

Baca selengkapnya Kajian Pantau Gambut mengenai "Nasib Restorasi Gambut Indonesia" terlampir.


Nasib Restorasi Gambut Indonesia (8.11 MB)
Download

Show your support

Help us to share this important new to your family and friends.